Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Bulan Ramadan Sebagai Bentuk Kesadaran Sosial

Bulan ramadhan ada yang disebut Syahrul jud sebutan yang melekat yang mempunyai makna memberi. Bulan yang bermurah tangan dan memberikan pertolongan kepada yang membutuhkan.

Tercipta kultur tradisi dan sosial masyarakat dalam hal ini memberi. Membagikan takjil bagi yang berpuasa, membayar fitrah dan mall serta membagikan kebahagian dan senyuman saat puasa dan berbuka puasa. Tapi apakah hanya bentuk memberi sudah dikatakan kesadaran sosial, mungkin itu dasar. Tapi pada realitanya kesadaran sosial sudah terbentuk di bulan ramadhan.

Peningkatan empati dalam interaksi

selain dalam hal memberi menunjukkan rasa empati.
Misalnya, seseorang yang berpuasa akan lebih mudah merasa tergerak untuk memberikan makanan atau bantuan kepada mereka yang tidak mampu. Begitu pula, dalam suasana yang lebih tenang dan damai selama bulan Ramadhan, sering kali terjadi peningkatan kualitas
interaksi sosial, seperti menghindari gosip, menyelesaikan konflik, atau berbagi kebahagiaan.
Melalui puasa Peningkatan empati dalam interaksi simbolik
Seperti George Herbert Mead seorang psikologi sosial menerangkan bahwa bahwa kesadaran sosial dan identitas diri berkembang melalui interaksi sosial dan kemampuan untuk memahami peran orang lain (taking the role of the other).

Kecerdasan emosional Spiritual

Dalam puasa kita dapat menunda kepuasan, mengendalikan amarah dalam menciptakan komunikasi yang baik. Menurut Imam Al-Ghazali, kecerdasan spiritual ini terjadi melalui proses muhasabah, muroqobah, al-kasyaf, marifat, dan munadzarah. Pada tingkatan inilah seseorang akan selalu merasa dilihat Allah SWT, melihat bagaimana keagungan-Nya, dan takut akan pertanggungjawaban nanti di akhirat.

Kecerdasan spiritual akan menghasilkan etos kerja yang baik. Karena spirit (semangat), seseorang akan bekerja keras. Disisi lain, spiritual juga akan melahirkan kepedulian sosial dan keshalehan sosial. Untuk itu, marilah kita tingkatkan spiritual dengan cara muhasabah (mengoreksi diri).

Solidaritas dalam kolektifitas

Setiap perintah yang ada di dalam Agama pasti memiliki nilai kebaikan dan rahasia yang terkandung di dalamnya. Tugas manusia selaku yang mengamalkannya diantaranya adalah memahami dan meresapi maknanya agar tidak menjadi sekedar ritual belaka tanpa ada dampak positif sesudahnya. Sebab secara mendasar agama diturunkan untuk menjadi rahmat bagi kelangsungan hidup manusia dan alam seisinya, yang artinya ajaran-ajaran dari agama haruslah dapat diamalkan selaras dengan tujuan tersebut.

Terkandung dalam firman Allah : Ali ‘Imran (3): 104: Menyerukan adanya segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh berbuat ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar.

Di sisi lain, meskipun puasa memiliki potensi untuk menciptakan solidaritas sosial yang lebih kuat, ada tantangan yang harus dihadapi. Tidak semua individu atau kelompok dalam masyarakat mampu merasakan manfaat dari solidaritas ini, terutama mereka yang
hidup dalam kemiskinan atau kondisi sosial yang terpinggirkan. Oleh karena itu, selain
berbagi makanan dan materi, penting juga untuk mengembangkan solidaritas sosial yang
lebih mendalam, yang mencakup pemberdayaan ekonomi dan peningkatan kualitas hidup bagi mereka yang membutuhkan.

Puasa dapat menjadi pendorong untuk menciptakan
kebijakan sosial yang lebih adil dan inklusif, di mana setiap orang dapat merasakan manfaat dari solidaritas tersebut. Puasa Ramadhan dapat menjadi suatu gerakan sosial apabila dilakukan sesuai dengan ketentuannya. Tidak hanya ketentuan sebagaimana dalam fiqih, namun juga memahami makna yang terkandung di dalam puasa.

Terikatnya solidaritas sangat kuat di puasa seperti tolong menolong dan berbagi bersama, berpuasa dan berbuka dirasakan bersama. kegiatan sosial tersebut terbentuk kolektifitas terbangun. meskipun puasa memiliki potensi besar untuk meningkatkan rasa empati dan
solidaritas sosial, kenyataannya tidak semua orang dapat sepenuhnya merasakan dan
mengimplementasikan nilai-nilai tersebut.

Dalam dunia yang semakin materialistik dan
individualistik ini, banyak individu yang menjalankan puasa hanya sebatas rutinitas agama tanpa menyadari makna sosial dan kemanusiaan yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu, penting untuk menggali lebih dalam bagaimana puasa dapat dijadikan sarana yang
efektif untuk memperkuat solidaritas dan meningkatkan kepedulian terhadap sesama.

Keindahan ukhuwah, taawun, spiritual yg baik akan membentuk kesadaran sosial tinggi. Dan itu terbangun dibulan ramadan, kelak keindahan ini tidak hanya dirasakan dibulan ramadan saja tetapi di setiap hari dan waktu karena pada dasarnya kebaikan, empati serta bermanfaat itu dilakukan sepanjang hayat.

Sumber :

  • puasa ramadan menajamkan kecerdasan sosial, redaksi Times Indonesia, 15 Maret 2025, 18:04 wib
  • hanifah, Nurul. Puasa Ramadhan Mengasah Empati dan solidaritas sosial. Akhlak : jurnal pendidikan Agama Islam dan filsafat. 02 Desember 2024

Penulis : Ajeng Riadwi Yunanto

(Pegiat Literasi dan Sosial)


Discover more from Profetik Society

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply

Discover more from Profetik Society

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading