Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Psikologi Perempuan

Penulis: Nurul Castri Yanti

Menjadi perempuan di era modern, bagi saya, adalah perjalanan sunyi sekaligus revolusioner, sebuah proses panjang untuk keluar dari bayang-bayang definisi yang tidak pernah benar-benar kita pilih. Dalam bingkai psikoanalisis Sigmund Freud, manusia dipahami melalui dinamika bawah sadar yang dibentuk oleh pengalaman dan relasi sosial. Namun, saya menyadari bahwa konstruksi tersebut kerap lahir dari dunia yang maskulin, sehingga perempuan lebih sering hadir sebagai objek pengamatan, bukan subjek yang memiliki otoritas atas dirinya.

Di titik ini, saya mempertanyakan apakah diri perempuan benar-benar lahir dari kesadaran, atau sekadar hasil pantulan dari sistem yang telah lama menempatkannya di pinggir.Kegelisahan itu menemukan resonansinya dalam pemikiran Gadis Arivia yang menegaskan pentingnya perspektif feminis dalam membaca ulang realitas. Bagi saya, menjadi subjek berarti merebut kembali makna bahwa perempuan bukan sekadar yang didefinisikan, tetapi yang mendefinisikan. Bahasa, norma, dan simbol sosial yang selama ini membentuk kesadaran perempuan perlu ditinjau ulang. Sebab, selama perempuan terus diposisikan sebagai yang lain, maka ia akan terus hidup dalam keraguan atas dirinya sendiri.

Kesadaran sebagai subjek adalah titik balik ketika perempuan mulai berbicara dengan suaranya sendiri, bukan mengulang suara dunia.Fenomena independent woman hari ini menjadi bukti bahwa perubahan itu sedang berlangsung. Kemunculan perempuan yang mandiri bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari perjuangan panjang menuju kesetaraan gender. Kini, perempuan tidak lagi semata dipandang sebagai pendamping, tetapi sebagai individu utuh yang memiliki hak menentukan jalan hidupnya.

Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa partisipasi perempuan dalam pendidikan tinggi terus meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini menandakan adanya transformasi kesadaran kolektif bahwa perempuan berhak atas ruang intelektual, profesional, dan kepemimpinan. Namun, dalam refleksi psikoanalitik yang lebih dalam, kemandirian ini bukan hanya soal capaian eksternal, tetapi juga pembebasan internal.

Perempuan yang mandiri adalah mereka yang berhasil menegosiasikan luka-luka simbolik dalam dirinya, mengubah rasa ragu menjadi keyakinan, dan ketakutan menjadi kesadaran diri. Saya melihat bahwa menjadi subjek bukanlah kondisi yang otomatis hadir, melainkan proses terus-menerus untuk melampaui batasan yang ditanamkan sejak lama. Dunia boleh saja berubah, tetapi tanpa kesadaran kritis, perempuan tetap berisiko terjebak dalam definisi lama dengan wajah baru.

Pada akhirnya, psikologi perempuan bagi saya adalah tentang keberanian yang lembut. Ia tidak selalu hadir dalam bentuk perlawanan keras, tetapi dalam keputusan sederhana untuk mengenali diri sendiri secara utuh. Saya tidak lagi bertanya siapa saya menurut dunia, melainkan siapa saya menurut kesadaran saya sendiri. Dalam kesadaran itulah, perempuan tidak lagi menjadi objek dari narasi sosial, melainkan penulis dari kisah hidupnya sendiri, gemulai namun penuh daya.

Referensi:

  • Preud, Sigmund. (1961). The ego and the id (J. Riviere, Trans.). W. W. Norton & Company. (Karya asli diterbitkan 1923)
  • Arivia, Gadis. (2003). Filsafat berperspektif feminis. Yayasan Jurnal Perempuan. Badan Pusat Statistik. (2023).
  • Statistik pendidikan 2023. https://www.bps.go.id


Discover more from Profetik Society

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply

Discover more from Profetik Society

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading